← Kembali ke daftar tokoh

Bisma

Dewabrata, Ganggananda, Resi Bisma, Prabu Basukesti
Gagah Hastinapura

Identitas & Silsilah Trahing Kusuma

Bisma adalah tokoh wayang purwa, dikenal juga dengan nama Dewabrata, Ganggananda, Resi Bisma, Prabu Basukesti, putra dari Prabu Santanu dan Dewi Gangga.

Analisis Visual & Ikonografi Wanda

Bisma digambarkan sebagai sosok ksatria sepuh yang berwibawa dengan busana kerajaan yang megah namun tetap menunjukkan kesan pertapa. Wajahnya selalu tampak tenang dengan sorot mata yang tajam dan bijaksana, mencerminkan kedewasaan spiritual. Dalam pewayangan, ia sering ditampilkan dengan kumis melintang dan janggut putih yang melambangkan kebijaksanaan serta usia yang sangat lanjut.

Karakteristik & Watak Sifat

Bisma dikenal sebagai sosok yang memegang teguh sumpah setia atau 'Bhisma Pratigya' untuk senantiasa melindungi takhta Hastinapura. Meskipun ia memiliki rasa kasih sayang yang besar kepada Pandawa, ia terikat oleh sumpah untuk membela Kurawa yang memegang kendali kerajaan. Konflik batinnya memuncak dalam Perang Baratayuda, di mana ia harus melawan cucu-cucunya sendiri demi menjaga kehormatan janji yang telah diucapkannya.

Esensi Filosofis Piwulang

Tokoh Bisma mengajarkan tentang pentingnya integritas, kesetiaan pada janji, dan pengorbanan pribadi demi kepentingan yang lebih besar. Ia menjadi simbol ketaatan terhadap dharma atau kewajiban meskipun harus menanggung beban penderitaan batin yang berat. Melalui kisahnya, masyarakat diajarkan bahwa kebenaran sejati sering kali menuntut pengorbanan atas keinginan dan perasaan pribadi.

Quotes & Ungkapan Filosofis Pitutur

“Sumpah Wadat (Membujang Selamanya)”

Janji/sumpah suci untuk tidak menikah seumur hidup dan melepaskan hak atas takhta Kerajaan Hastinapura.

Keteguhan niat, pengorbanan ego serta kewenangan personal demi baktinya kepada orang tua (*manggala bumi*), sekaligus komitmen luhur demi mencegah terjadinya perselisihan perebutan kekuasaan di masa depan.

Sumber: `Jurnal Lakon ISI Surakarta (isi-ska.ac.id) & Repository UM (repository.um.ac.id)`

“Bela Negara Tanpa Bela Kurawa”

"Membela negara tumpah darah (Hastinapura), bukan membela kejahatan Kurawa."

Prinsip patriotisme luhur (*satriya bela negara*). Bisma membedakan secara tegas antara loyalitas terhadap institusi/tanah air dengan keberpihakan pada rejim otoriter/zalim. Ia bertempur di garis depan perang Baratayuda sebagai wujud pelunasan utang budi pada bumi tempatnya bernaung, meski jiwanya sendiri merestui kemenangan Pandawa yang berada di pihak kebenaran.

Sumber: `Jurnal Lakon ISI Surakarta (isi-ska.ac.id) & Suara Merdeka / Disway (radartasik.disway.id)`

“Ngruwat Sukma (Pinuju Janji Dewi Amba)”

Menjemput ajal/kematian atas kerelaan diri sendiri saat bertemu jodoh takdirnya (melalui panah Srikandi yang dirasuki sukma Dewi Amba).

Kepatuhan pada hukum karma dan kejujuran pada janji moral. Bisma yang dianugerahi kesaktian *Icchāmṛtyu* (hanya bisa mati atas kehendaknya sendiri) secara sadar menerima ajalnya di medan Kurusetra sebagai bentuk penebusan penyesalan atas takdir masa lalunya terhadap Dewi Amba, sekaligus penanda tuntasnya kewajiban hidupnya di dunia.

Sumber: `Arsip Serat Pustakaraja Purwa / Sastra.org & Ensiklopedia Wayang (wikisource.org / disway.id)`

“Aja Adigang, Adigung, Adiguna”

jangan mengandalkan kekuatan , kekuasaan, dan kepintaranmu

Dalam lakon pewayangan Jawa, kakek para Pandawa dan Kurawa ini kerap memberi nasihat mendalam kepada Duryudana (pemimpin Kurawa). Bisma melambangkan watak Adigang pada Kijang, Adigung pada Gajah, dan Adiguna pada Ular. Bisma memperingatkan Duryudana agar tidak sombong atas pasukan perang Kurawa yang besar dan licik, karena kesombongan itu yang pada akhirnya membinasakan Kurawa.