Bima
Identitas & Silsilah Trahing Kusuma
- AyahPandu Dewanata, raja Hastinapura
- IbuDewi Kunti
- SaudaraYudhistira, Arjuna (seibu); Nakula, Sadewa (saudara lain ibu)
- WilayahAmarta
Bima adalah tokoh wayang purwa, dikenal juga dengan nama Werkudara, Bratasena, Jodipati, Bayusiwi, putra dari Pandu Dewanata, raja Hastinapura dan Dewi Kunti.
Analisis Visual & Ikonografi Wanda
Bima digambarkan bertubuh tinggi besar dengan postur berdiri tegak lurus. Berbeda dari kesatria lain yang bersila hormat di hadapan raja atau dewa, Bima selalu berdiri, bahkan di hadapan Batara Guru sekalipun. Postur ini adalah bahasa visual dari wataknya: ia tunduk pada kebenaran, bukan pada hierarki atau basa-basi.
Senjata Gegaman
-
Kuku PancanakaKuku ibu jari yang panjang dan tajam seperti senjata, melambangkan kekuatan yang menyatu dengan diri.
-
Gada RujakpoloSenjata pemukul utama, mencerminkan pendekatannya yang lugas dan tanpa tipu daya.
Ilmu & Aji Kesaktian
-
Aji BandungbandawasaAjian utama Bima, warisan dari Patih Gandamana. Beberapa sumber menyebutnya sebagai ajian kekuatan.
-
Aji Blabak Pangantol-antolSalah satu ajian yang dimiliki Bima, disebutkan berdampingan dengan Aji Ketuklindu di berbagai sumber pedalangan.
-
Aji KetuklinduAjian yang dimiliki Bima
-
Aji BayubajraAjian terkait garis keturunan Bima sebagai titisan Bathara Bayu (dewa angin), ayahnya secara spiritual.
Pusaka Lain
-
Kotang AntakusumaRompi pusaka pemberian dewa yang memungkinkannya terbang, simbol keberkahan atas kejujuran dan keteguhannya.
-
Caping BasunandaTopi pusaka pelindung dari hujan dan panas, penanda bahwa ia senantiasa dilindungi selama berjalan di jalan yang benar.
-
Gelang CandrakiranaGelang pusaka di kedua lengan, penambah kekuatan fisik dalam pertarungan.
Karakteristik & Watak Sifat
Kategori Gagah: berwibawa, keras, dan tegas, namun bukan kasar. Ia tidak pernah berbahasa halus (krama) bahkan kepada raja atau gurunya sendiri, karena baginya basa-basi adalah bentuk ketidakjujuran.
Konflik moral yang paling mendefinisikan Bima adalah kesetiaan versus kebenaran, terutama dalam lakon Dewa Ruci: ia diperintah gurunya untuk mencari air suci Perwitasari, sebuah tugas yang sebenarnya jebakan. Bima menjalankan perintah itu sepenuh hati sambil tetap mencari kebenaran sejati di baliknya, dan menemukan pencerahan batin melalui sosok Dewa Ruci.
Esensi Filosofis Piwulang
Quotes & Ungkapan Filosofis Pitutur
“Suro diro joyoningrat, lebur dening pangastuti.”
Segala keberanian, kekuatan, dan kejayaan di dunia akan lebur oleh kelembutan serta keluhuran budi pekerti.
Prinsip dasar ajaran Sastra Jendra Hayuningrat yang diterima Bima saat berguru kepada Dewa Ruci. Ajaran ini menegaskan bahwa nafsu amarah dan keangkuhan kekuasaan tidak dapat ditaklukkan dengan kekerasan, melainkan dengan kerendahan hati, kasih sayang, serta ketulusan.
Sumber: kagama.co / ki-demang.com / sarasvati.co.id
“Memayu hayuning bawana.”
Memelihara, memperindah, dan menjaga keselamatan dunia.
Komitmen moral yang dipegang teguh oleh Bima sebagai ksatria penegak keadilan. Kalimat ini mengamanatkan bahwa tindakan seorang ksatria harus berorientasi pada kemaslahatan bersama, menjaga keseimbangan alam, serta mencegah kerusakan di muka bumi
Sumber: jagadid.com / kejawen.id
“Aja wedi marang sakpadha-padha, wediyo marang Gusti Kang Akarya Jagad.”
Jangan takut kepada sesama manusia, takutlah kepada Tuhan Pencipta Alam.
Mencerminkan watak Bima yang tak pernah tunduk pada hierarki atau kekuasaan duniawi -- termasuk raja dan gurunya sendiri -- karena rasa takut dan hormatnya hanya ia tujukan kepada Sang Pencipta, bukan kepada kedudukan manusia.
“Mikul dhuwur mendhem jero.”
Menjunjung tinggi martabat orang tua/leluhur dan menyimpan atau menutup aibnya dengan baik.
Kekuatan Bima tidak hanya diwujudkan lewat tenaga dan keberanian, tetapi juga tanggung jawab terhadap keluarga serta penghormatan kepada leluhur.
Muncul di Lakon
Sesaji Rajasuya
Pandawa Dadu
Kurawa Lahir
Bima Bungkus
Gandamana Luweng
Perang Pamuksa
Pandu Banjut
Danghyang Kumbayana
Pendadaran Siswa Sokalima
Bale Sigala-Gala
Bima Bothok
Babad Wanamarta
Puntadewa Jumeneng Nata
Setyaki Lahir
Suryaputra Maling
Narayana Kembang
Narayana Kridha
Wahyu Purbasejati
Gatutkaca Lahir
Duryudana Rabi
Jayadrata Rabi
Dewa Ruci
Bima Racun
Lesmana Mandrakumara Lahir
Bangun Taman Maherakaca
Abimanyu Lahir
Antasena Takon Bapa
Wisanggeni Lahir
Bambang Danasalira
Antareja Mbalela
Prabu Tuguwasesa
Dewa Amral
Bimasuci